Periksa status keanggotaan perpustakaan dengan ID atau nama Anda.
Text
Lalu Batu: Antologi Puisi
Buku ini adalah antologi puisi karya sastra. Yang berkisahkan dari udara yang panas langit yang mencekik, dan semua orang harus mengerti bahwa hidup yang dijalani adalah sekedar bartahan dalam peradaban yang tak lagi memberi cukup kesempatan. Kenyataan ini kian hiper pragmatis, serba oportunistik,materialistis. Ketika ide-ide dituangkan dalam puisi antologi: Sejarah hari ini, Manusia pantat, Tokya yang pertama, Salju pertama, Koin, Pelukis tua, Semalam kau kuulam, Seperti waktu sediakala, Percakapan dua ranting, Epistema Negeri asap, Pintuku, pintu ibu, pintu batu, Lalu waktu lalu tentu, Sebuah desa yang gemetar, Langit satu, menjerit waktu, menjadi aku, Hikayat waktu, Menara air, Tak tamu tak bertemu, Ziarah Waktu lenyap, Darah licin sejarah cincin , Lagu ragu dunia lagu, Bernafaslah, Mencari jiwa dalam bahasa, Atas nama prasangka, Bibir seabadi Dzikir, Sebut namaku Surga, Jembatan kayu, Reformati, Rimba katakata, Fotografer parlemen, Cadas waktu Pundaquit, pinatubo turbo pinatubo, Catatan dari tepi mimpi, Ketika syukur ketika tempur, Selamat pergi hari ini, Ingin pernah ingin, Dunia lembab- itukah aku, Di tubuh subuh, Kaliak, Sakit itu, suara itu, huruf, kata, pandang, nafas, cahaya, Cahaya. (SF)
No other version available